Senin, 16 Januari 2012

Penerapan Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Apresiasi sastra



2. Pendekatan Pragmatik
a)  Hakikat Pendektan Pragmatik
Muncul pendekatan pragmatik yang bertolak dari teori resepsi sastra dalam khasanah pemahaman karya sastra merupakan reaksi terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pendekatan struktural. Sebab pendekatan struktural ternyata tidak mampu berbuat banyak dalam upaya membantu seseorang da-lam menangkap dan memberi makna karya sastra. Pendekatan struktural hanya dapat menjelaskan lapis permukaan dari teks sastra karena hanya berbicara tentang struktur atau interalasi unsur-unsur dalam karya sastra. Banyak segi lain yang diperlukan untuk lebih menjelaskan makna karya sastra. Untuk dapat menangkap segi-segi lain itu para pakar mengemuka-kan sebuah pendekatan baru, yaitu pendekatan prag-matik.
Pendekatan pragmatik sebagai salah satu ba-gian dari ilmu sastra  merupakan kajian sastra yang menitikberatkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna karya sastra (Teew, 1984:50). Dengan kajian ini, otonomi karya sastra tidak relevan; karya sastra memang mempunyai struktur, tetapi struktur saja tidak dapat berbuat banyak. Dengan munculnya pendekatan pragmatik, maka bermula pula kawasan kajian sastra ke arah peranan pembaca seba-gai subjek yang selalu berubah-ubah sesuai dengan keberadaannya.
Sebagai suatu pendekatan untuk mencari kebenaran dalam teks sastra, pendekatan pragmatik memiliki relevansi dengan sistem kefilsafatan prag-matik. Heraclitus dalam Graff et.al. (1966:167) me-ngembangkan teori kefilsafatan yang mirip dengan pragmatik modern. Konsep Heraklitus yang terkenal adalah ”Tidak ada realitas yang bersifat absolut, demi-kian juga halnya dengan kebenaran nilai-nilai. Rea-litas, kebenaran, dan nilai-nilai merupakan sesuatu yang selalu berubah, sehingga perubahan itu sendirilah yang bersifat permanen”. Dengan kata lain, hanya dengan indra penyerapan (the sense of perception) itulah yang memiliki pengetahuan dan yang meng-adari karakter perubahan pengetahuan.
Menurut J. Donald Butler dalam  bukunya Four Philosophies Their Practice in Education and Religion (1957:417) menyebutkan bahwa pragmatik berkembang pada akhir abad ke-20 yang dipelopori oleh Charles Sander Peirce, William James, dan Jonh Dewey. Menurut Graff et.al. (1966:169), Pierce men-curigai kemampuan manusia yang mengatakan dirinya mampu mengetahui tanpa menempuh beberapa jalan dengan mencek pengetahuannya untuk memperoleh validitas. Salah satu kesulitan dalam pengetahuan ada-lah apa yang dinamakan dengan kesulitan semantik. Kata adalah simbol, dan simbol tidak mampu menya-jikan secara akurat dan lansung serta cenderung men-jadikan makna ambiguitas. Untuk itu Pierce berupaya untuk mengoperasionalkan ide dan makna-makna yang abstrak dari bentuk Rational Cognation (Know-ing) menjadi rational purpose atau doing (power 1982:123). Dengan demikian Pierce menaruh perha-tian yang besar terhadap prinsip-prinsip logika dan epistemologi.
Kemudian William James memperluas ruang lingkup pragmatik yang diungkapkan Pierce. Ia tidak lagi menganggap pragmatik sebagai metode labora-torium, tetapi telah menerapkannya ke bidang-bidang  kehidupan manusia yang lebih luas. Ia sangat mene-kankan peranan pengalaman sebagai lokus pemberi makna. Hal dilakukan karena menurutnya pengalaman pengalaman merupakan sesuatu yang di dalamnya su-dah tercakup pemikiran atau ide yang selalu diakait-kan denga substansi tertentu. Pengalaman selalu ber-sifat aktif. Dengan demikian, konsep kebenaran adalah kesuaian antara ide dengan realitas; ada hubungan sifat objektif (realitas) dengan sifat subjektif  (penga-laman) dan kebenaran terletak dalam kedua hubungan tersebut.
Pengalaman subjektif hendaknya diverifikasi-kan melalui pengalaman objektif  untuk mencapai ke-benaran (Power 1982:126—127). Kebenaran ide dapat diketahui jika dikaitkan dengan sesuatu yang ditun-jukan oleh ide tersebut melalui tindakan-tindakan yang membawa hasil tertentu. Dengan kata lain, ide yang bersifat subjektif hendaknya dapat diobjektifkan dan proses itu merupakan suatu yang ditangkap dari realitas.
John Dewey mengemukakan bahwa penca-paian kebenaran akhirnya merupakan mitos. Manusia  tidak akan pernah mencapai kebenaran akhir karena keterbatasan yang dimilikinya. Karena itu apa yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar oleh orang lain. Ini menunjukan bahwa bermakna tidaknya sesuatu terletak pada persepsi individual terhadap objek yang menjadi perhatiannya atau tergantung pada siklus perubahan waktudan konteks tertentu.
Berdasarkan pikiran-pikiran di atas, dapat diambil pengertian bahwa pragmatik adalah cara me-mkitang  sesuatu yang sesuai dengan  kegunaannya  (Echolsden Shadily 1975:442). Sedangkan Morris  da-lam Tarigan (1986:33) mendefinisikan pragmatik se-bagai telaah hubungan tkita-tkita dengan interpre-tator atau penafsir.
Keterkaitan antara tkita dengan penafsiran menurut Van Dijk (1976:87—112) harus disikapi se-cara pragmatis dan kontekstual. Sebab tkita-tkita tersebut bersifat arbitrer dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kearbitrerannya itulah yang me-nyebabkan ia perlu  disikapi secara kontekstual. Di da-lam sastra ada tiga tkita saling signifikan, yaitu tkita bahasa, budaya, dan tkita sastra sendiri atau oleh Teew di istilahkannya denggan kode bahasa, budaya, dan kode sastra. Ketiga kode ini tidak seluruhnya dapat diamati secara empirik. Kode bahasa misalnya, secara realitas  memang dapat diamati oleh indra, teta-pi untuk memahaminya diperlukan sejumlah lokus makna lainya yang terdapat pada kesadaran subjektif. Demikian juga dengan kode budaya dan kode sastra  tidak terlepas dari lokus pemaknaan lainnya.
Levinson yang dirujuk Nababan (1987:2) mengartikan pragmatik  sebagai  kajian hubungan an-tarbahasa dengan konteks yang mendasari penjelasan  pengertian bahasa. Di dalam pengertian ini terlihat bahwa pemahaman bahasa merujuk pada fakta  bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yaitu hubungan  dengan konteksnya.
Dalam literatur yang berkaitan dengan pragmatik, ada pula yang menekankan kepada struktur bahasa, aspek  makna tertentu, dan hakikat ketergan-tungan dengan konteks, seperti yang dipaparkan beri-kut ini.

a.    Pragmatik adalah studi tentang hubungan-hubung-an antar bahasa dengan konteks yang digramatikali-sasikan atau dikodekan dalam struktur suatu baha-sa;
b.    Pragmatik adalah studi tentang semua aspek makna yang tidak terliput dalam teori semantik;
c.    Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara ba-hasa dengan konteks yang merupakan dasar untuk uraian pemahaman bahasa;
d.   Pragmatik adalah studi tentang  kemampuan pema-kaian bahasa untuk memadankan kalimat dengan konteks yang tepat; dan
e.    Pragmatik adalah studi tentang dieksis, implikasi, prasuposisi, tindak ujar, dan aspek struktur wacana.
Dari beberapa pengertian di atas, maka yang di-maksudkan  dengan pendekatan pragmatik dalam tulisan ini adalah cara memkitang hubungan tkita-tkita bahasa sebagai media ekspresif karya sastra den-gan interpretator atau penafsir sebagaimana penger-tian pragmatik yang dirumuskan oleh Morris dalam Tarigan dan Van  Dijk terdahulu. Tkita-tkita yang dimaksud adalah tkita-tkita bahasa yang dipergu-nakan dalam banguanan karya puisi. Sedangkan pe-nafsiran yang dimaksud adalah begaimana penafsiran atau interpretasi pembaca terhadap makna tkita tersebut. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa pendekatan pragmatik adalah suatu pendekatan yang dipergunakan dalam menelaah karya sastra (puisi) berdasarkan resepsi personal pembaca (interpretator) terhadap tkita atau unsur-unsur bangun puisi.
Relevansi pendekatan pragmatik dalam mengap-resiasi menelaah karya sastra  tersebut dimungkinkan, karena sastra tidak mutlak otonom, tetapi selalu terkait dengan konteks sosial, seperti yang dikaitkan Northrop Frye berikut:
The convertions, gendres and archetypes of literature do not simple appear: They must develop historycally from origins, or perhaps from a common origin…. The social context of literature can onlybe understoodafter conception of literature itself has been grasphed. Literture has its own froms of statement, its own convention its own history. Society does not simply produce plays and poems and novel, but develops a literature, and writers drew their themes and gendres and technical skill from that literature”.
(Frye 1973:153)
Seperti dikatahui dalam seni bukanlah hasil yang dipentingkan, tetapi preses pemberian makna. Sementara karya seni seperti puisi baru mempunyai makna setelah berinteraksi dengan penikmatnya (pem-baca). Demikian nilai estetik sebuah puisi terletak antara struktur puisi sebagai kode sastra dan sebjek-tivitas pembaca yang diliputi  oleh berbagai kode budaya.
Ide dari Mukarovsky di atas, dilanjutkan oleh Vodicka. Yang menari dari kajian tokoh ini adalah tentang konkretisasi yang dibserikannya kepada akti-vitas  pembaca. Menurut  Vodicka, karya sastra tak ubahnya seperti benda mati (artefak) yang tidak mem-punyai jiwa. Pembacalah yang memberi jiwa dan menghidupkannya melalui proses konkretisasi. Seba-gai artefak karya sastra termasuk puisi tidak jelas maknanya; ia baru jelas atau konkret setelah berin-teraksi dengan pembaca.
Istilah konkretisasi sebenarnya berasal dari Roman Ingarden. Menurut Ingarden , karya sastra mempunyai struktur  yang objektif, yang memberi pe-luang kepada pembaca untuk memberi arti terha-dapnya. Tetapi struktur karya sastra semata belum bisa berbuat banyak terhadap pembaca, sehingga diper-lukan suatu kegiatan konkretisasi terhadap kemung-kinan makna yang disediakan oleh struktur yang objektif. Kegiatan konkretisasi makna karya sastra dibatasi oleh struktur itu sendiri, karena struktur ob-jektif itu hanya satu, maka konkretisasi makna hanya ada satu terlepas dari pengaruh masa dan tempat. Te-tapi bagi Vodicka pembaca mempunyai kemungkinan konkretisasi yang lebih dari satu. Artefak yang dihadapi pembaca menyediakan kode-kode makna, sementara pembaca memberi makna sesuai dengn kode yang ada padannya. Dengan demikian makna atau konkretisasi makna karya sastra dapat saja ber-beda-beda antara pembaca yangb satu dengan pem-baca yang lain, sesuai dengan skematik simbolik yang dimilikinya. Jausz (dalam Teew 1984:193—195) me-ngatakan bahwa interpretasi seorang pembaca ter-hadap sebuah karya sastra ditentukan oleh horison penerimaan. Horison penerimaan itu mempengaruhi dan mengarah kesan, tanggapan, dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra. Setiap pembaca mem-punyai horison penerimaan yang mungkin saja ber-beda antara pembaca  yang satu dengan pembaca yang lainnya.
Horison penerimaan (pembaca) ada dua  ma-cam, yaitu horison penerimaan estetik dan horison penerimaan non-estetik. Horison penerimaan yang pertama (horison penerimaan estetik) terdapat  di da-lam anatomi karya sastra yang dibaca., sedangkan horison penerimaan non-estetik terdapat dan melekat pada diri pembaca (Junus 1985:138).
Teori resepsi sastra dalam kajiannya melihat bagaimana hubungan antara pembaca dengn karya sastra, yaitu bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan  reaksi dan tanggapan.

b) Prinsip-prinsip Dasar Pendekatan Pragmatik
Karena pendekatan pragmatik bertolak dari teori resepsi sastra, maka prinsip dasarnya pun dalam mengkaji karya sama dengan tempat ia berpijak terse-but. Sebagai suatu pendekatan dalam memahami karya sastra, pragmatisme mempunyai prinsip bahwa: (1) otonomi karya sastra dianggap tidak relevan dalam kajian karya sastra, karena terlalu menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom. Padahal  karya sastra tersebut tidak mempunyai kewujudannya sendiri sampai dibaca. Karena itu untuk dapat memahami sebuah karya sastra, pendekatan pragmatik tidak terlalu terikat pada struktur sastra semata, melainkan juga kepada faktor yang ada pada diri pembaca secara kontekstual. Oleh karena itu, bentuk telaahnya kompleks daripada pendekatan struktural yang hanya tertuju pada bangun struktur saja. (2) pendekatan prag-matik memkitang karya sastra sebagai artefak, pem-bacalah yang menghidupkannya melalui proses konk-retisasi. Karya sastra hanya menyediakan tkita atau kode makna, sedangkan makna itu sendiri diberikan oleh pembaca. Karya sastra tidak mengikat pembaca, tetapi menyediakan tempat yang kosong untuk diisi oleh pembaca. Maksudnya adalah bahwa teks sastra seperti puisi  tidak pernah mempunyai makna yang terumus dengan sendirinya, sehingga diperlukan tin-dakan pembaca untuk merumuskannya. (3) pembaca bukanlah pribadi yang tetap dan sama, melainkan sela-lu berubah dan berbeda. Oleh karena pembaca dalam melakukan proses pemahaman dipengaruhi oleh horison penerimaannya, maka subjektivitas pembaca mungkin berbeda  antara satu dengan lainnya. Itulah sebabnya teknik telaahnya pragmatis dan dialektik. (4) Teks sastra selalu menyajikan ketidakpastiaan makna, sehingga memungkinkan pembaca untuk memaknai dan memahaminya secara terbuka lebar (Teeuw 1984; Junus 1985; Salden 1986; dan Jefferson & Robey 1988). Ketidakpastiaan iitulah mengapa pangkal tolak telaah pendekatan pragmatik ini dalam mengapresiasi karya sastra pada persepsi pembaca.


c) Karakteristik Pendekatan Pragmatik dalam Menelaah Karya Sastra
Bertolak dari hakikat dan prinsip dasar pen-dekatan pragmatik di atas, dapat dirumuskan bahwa pendekatan pragmatik dalam menelaah karya sastra adalah sebagai berikut:
(1)     Asumsi dasar pendekatan pragmatik memkitang bahwa karya sastra sesuatu yang bersifat artefak. Ia merupakan suatu benda yang belum mempu-nyai jiwa, dan baru mempunyai jiwa bila dinik-mati  atau dipahami.
(2)     Bentuk telaah kompleks, karena dalam menen-tukan makna atau unsur intrinsik, melainkan juga unsur ekstrinsik seperti pengarang, pembaca dan genetik karya sastra.
(3)     Dalam menelaah, unsur yang menjadi objek te-laah mencakup seluruh  unsur, baik fisik maupun unsur batin dan unsur-unsur lain yang dapat dija-dikan acuan untuk mengkongkretisasikan  makna yang abstrak.
(4)     Proses telaah dimulai dari resepsi personal pem-baca ke keseluruhan bagian dan mencari hubung-an struktur bagian kemudian menempatkan struk-tur keseluruhan menjadi struktur bagian dalam struktur yang lebih besar untuk dapat dikonkreti-sasikan melalui proses re-deskripsi.
(5)     Teknik telaah pragmatis dan dialektik, yaitu de-ngan melibatkan pengalaman  pembaca, penga-rang, di samping unsur  intrinsik yang menjadi acuan telaah.
(6)     Dasar pertimbangan dalam penentuan makna ada-lah perpaduan unsur intrinsik dengan unsur eks-trinsik serta faktor genetik dan pengalaman yang dipunyai  pembaca.
(7)     Pangkal tolak telaah dari resepsi pembaca terha-dap unsur bangun karya sastra.
(8)     Esensi karya sastra adalah makna setiap unsur, hubungan antara unsur dan keterpaduannya dihu-bungkan dengan konteks kesemestaan dan sistem kognisi pembaca
(9)     Unsur pengarang dan pembaca dipertimbangakan dalam menelaah sebagai bagian dari genetik un-tuk kesempurnaan makna.

a)    Pola Pembelajaran Apresiasi Sastra Berdasarkan Pendekatan Pragmatik
Oleh karena pendekatan pragmatik dalam karak-teristik kajiannya bertumpu pada persepsi pembaca terhadap karya sastra, maka teori belajar yang melan-dasinya adalah teori psikologi kaum humanistik yang ditokohi oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers. Teori ini memberikan perhatian terhadap manusia (pembelajar) secara maksimal.
Prinsip-prinsip psikologi humanistik yang me-lkitasi pola pengajaran analisis puisi berdasarkan pendekatan pragmatik ini adalah: pertama, membantu orang ”diam” untuk dapat berbicara ke arah terealisa-sinya potensinya secara individu menjadi orang  yang berfungsi; kedua, fokus pendidikannya pada proses belajar, bukan pada proses mengajar; ketiga, hanya  pembelajarlah yang dapat menilai apakah pengajaran yang diberikan benar-benar bermakna bagi mereka; dan keempat, tugas pengajar hanyalah sebagai fasili-tator, bukan sebagai pembuat keputusan apa  yang ha-rus dipelajari.
Prinsip-prinsip psikologi humanistik di atas, memperlihatkan bahwa peserta didik atau pembelajar adalah unsur sentral dalam pendidikan; pembelajar harus diberi kebebasan untuk mengembangkan kreati-vitasnya selama PBM berlangsung. Dengan demikian prinsip psikologi humanistik itu sejalan prinsip yang dianut pendekatan pragmatik, yaitu memberikan per-hatian terhadap peserta didik sebagai pelaku pelajar (belajar dalam hal ini adalah belajar menganalisis atau mengapresiasi karya sastra).
Berdasarkan prinsip-prinsip teori psikologi hu-manistik di atas, masalah utama yang  perlu diper-hatikan dalam pengajaran analisis puisi adalah ”bagai-mana  mengembangkan kemampuan peserta didik agar mereka dapat berkomunikasi dengan karya sastra. Hal utama yang lebih layak mendapat perhatian adalah kerangka pengalaman dan pengetahuan apa yang seha-rusnya dimiliki oleh peserta didik, dan bagaimana proses komunikasi itu sebaiknya berlangsung.
Pendekatan pragmatik dalam kajiannya adalah menelaah hubungan tkita-tkita dengan penafsir, ka-rena itu kerangka pengalaman dan pengetahuan yang diperlukan adalah skemata simbolik, karena selain berisi pengalaman tentang masalah kehidupan dan esensi keberadaan manusia, juga berkaitan dengan pemahaman tentang konvensi dalam komunikasi sastra. Kelengkapan serta keluasan skemata simbolik seseorang tentu berbeda-beda sesuai dengan horison penerimaan yang dipunyainya. Tugas pengajar dalam hal ini adalah mengembangkan skemata simbolik peserta didik sehingga secara kreatif mereka mampu memanfaatkannya dalam kegiatan apresiasi sastra.
Tugas pendidik atau guru berikutnya adalah memberikan bim-bingan tentang bagaimana cara berpikir yang benar sewaktu peserta didik mengapresiasi karya sastra. Cara berpikir yang dimaksud antara lain (a) mema-hami karya sastra  harus  diawali eksplorasi, ataupun pencarian secara induktif, (b) uapaya memahami karya sastra dimulai di penggambaran isi secara umum menuju kepada totalitas, melalui resepsi individual dan observasi menuju ke analisis sintesis, dan (c) pe-mahaman karya sastra bertolak dari apa yang tersurat ke yang tersirat atau dari konkret  ke abstrak sehingga dunia simbolik atau dunia tkita dalam karya sastra tidak cukup bila hanya dipersepikan, melainkan harus diabsraksikan.
Cara berpikir seperti di atas, bisa jadi merupakan cara berpikir yang amat layak apabila digunakan pula dalam mengahadapi dan mengolah kehidupan. Sebab dunia kehidupan bagaimanapun juga merupakan dunia yang tidak dapat bercerita tentangnya. Demikian juga halnya karya sastra, ia tidak dapat bercerita tentang-nya, pembacalah yang secara sadar harus berusaha mencari pemahaman tentangnya secara terus-menerus, sejalan dengan sistem kognisi yang dimiliki. Karena itu, manusia selain harus menyadari bahw dirinya telah menentukan sesuatu, mereka juga harus menya-dari statusnya sebagai pencari.
Pengamatan dan kesadaran apresiator terhadap dunia kehidupan  yang digambarkan dalam karya sas-tra, walaupun selalu berlangsung per bagian, harus di-lkitasi kesadaran akan adanya kemenyeluruhan atau suprasitem. Dengan  demikian, kalaupun kesdaran ter-hadap bagian itu akhirnya membuahkan pemahaman, tetapi  hasil itu tidak bersifat fragmentaris atau pin-canng, melainkan kemungkinan hubungannya dengan bagian lain dalam totalitasnya telah diperhitungkan. Karena itulah pendidikan memiliki tugas mengem-bangkan kemampuan peserta didik dalam merekons-truksi dunia kehidupan secara simbolik yang antara lain ditkitai oleh adanya upaya mengembangkan ke-mampuan peserta didik dalam berpikir secara konpre-hensif.
Pembiasaan dan pengasahan pola pikir yang de-mikian, jelas dapat ditempuh melalui kegiatan apre-siasi sastra. Masalahnya sekarang bagaimana cara pengapresiasi sastra yang benar  agar mampu mem-buahkan manfaat. Disadari atau tidak, karya sastra selalu terkait dengan masalah manusia, hidup, dan ke-hidupan. Sewaktu berhadapan dengan karya  sastra, pembaca dengan mudah mengambil jarak: apresiator sebagai subjek dan karya sastra sebagai objek. Pembaca dalam hal ini berkedudukan sebagai pemberi makna. Gejala yang tampak  adalah paparan bahasa yang sudah barang tentu tidak menimbulkan apa-apa sebelum dimaknai.
Apabila pemahaman makna literasi sudah bukan  merupakan masalah, tugas pembaca berikutnya adalah menggambarkan atau mengkonkretisasikan dunia yang  ditampilkan pengarang secara imajinatif. Pada tataran ini pembaca pada dasarnya melakukan pro-yeksi melalui konkretisasasi dunia acuan yang secara simbolik terkandung dalam paparan bahasa. Sewaktu melamunkan sesuatu yang tergambar dalam karya sastra pembaca sebagai apresiator harus dapat  pula menjawab pertanyaan seperti: (a) konsep apa yang dapat dikembangkan dari hasil penggambaran itu, (b) pengertian dan nilai apa yang teremban di dalamnya, dan (c) bagaimana hubungan antara unsur pengertian dengan unit-unit pengertian lainya.
Dalam proses penggambaran sesuatu serta upaya mencari jawaban dari ketiga butir pertanyaan di atas, peserta didik sebagai pembaca sekaligus apresiator pa-da dasarnya sedang mengadakan re-kreasi. Dalam hal ini, tidak berbeda dengan apa yang telah dilakukan penulis atau penutur, peserta didik juga melakukan proses kreatif. Bertolak  dari pemahaman perbagian melalui analisis, peserta didik mengadakan kompre-hensi melalui sisteisis. Dari pemahaman terhadap pengertian dan nilai yang terakandung yang telah dire-kognisi itulah peserta didik melakukan re-deskripsi, yakni menggambarkan kembali atau mengkomuni-kasikan isi yang terkandung dalam suatu karya sastra sesuai denggan bahas sendiri, sesuai dengan persep-sinya tehadap objek yang dihadapi, yaitu karya puisi.
Secara singkat proses mengapresiasi  karya puisi dengan pendekatan pragmatik dimulai dari kegiatan membacaseadanya—membaca dengan estetis—meng-integrasikan hasil bacaan secara personal (sesuai dengan pengalaman)—membaca dengan rujukan intrinsik sastra—mengintegrasikan hasil bacaan dengan unsur ekstrinsik—dan terakhir menggambar-kan hasil bacaan yang berwujud dari hasil interpretasi terhadap bacaan (bacaan di sini adalah karya puisi (baca Yus Rusyana  1991:8)).
Jadi, pembelajaran apresiasi sastra yang berda-sarkan kepada pendekatan pragmatik tersebut adalah analisis, respons dan kreativitas. Setiap bahan ajar (karya puisi) dibaca, dianalisis, direspons, dan diko-munikasikan secara kreatif oleh peserta didik.
Sejalan dengan prinsip bahwa dalam meng-apresiasi sastra pola pikir yang digunakan adalah pola pikir kreatif, maka pola PBM yang ditempuh melalui pendekatan pragmatik tersebut adalah seperti yang digambarkan beriokut ini.

Tahap 1
Tahap 2
Tahap 3
Tahap 4
Tahap 5
Persepsi personal & orasi
Iventarisasi untuk konkretisasi
Klasifikasi dan kom-prehensi
Orasi, yaitu mendiskusi-
kan hasil
tahap 3
Re-deskripsi & penggam-baran ulang

Melalaui tahap 1, yaitu untuk, mendapatkan persepsi personal peserta didik terhadap karya sastra  yang diajarkan, maka pengajar menganjurkan peserta didiknya untuk membacanya, baik secara perorangan maupun kelompok, dan setelah itu diminta respons mereka masing-masing terhadap cipta sastra yang dibacanya tersebut. Setelah itu (tahap 2) peserta didik disuruh menganalisis atau mengapresiasi bsendiri  melalui kegiatan inventaris unsur-unsur (intrinsik dan ekstrinsik) cipta sastra yang dibacanya tadi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan faktual yang telah dipersiapkan pengajar untuk bahan itu. Kemudian pada tahap ketiga, mengklasifikasikan unsur-unsur yang diinventaris tadi untuk dianalisisnya secara kese-luruhan. Kegiatan berikutnya, yaitu pada pada tahap empat, peserta didik mediskusikan hasil analisis yang dibuatnya, dan pada tahap terakhir peserta didik menggambarkan kembali hasil responsnya tersebut untuk mendapat  gambaran umum tentang puisi yang sdianalisis tersebut.
Berdasarkan tahap-tahap kegiatan di atas, jelas bahwa pola atau bentuk pembelajaran dalam pende-katan pragmatik terbagi ke dalam lima tahap, yaitu tahap orientasi melalui kegiatan membaca dan meres-pons berdasarkan persepsi personal peserta didik, tahap konkretisasi melalui kegiatan inventarisasi bangun struktur puisi, tahap komprehensif melalui ke-giatan analisis, tahap orasi melalui kegiatan diskusi kelas, dan tahap antisipasi atau umpan balik melalui kegiatan re-deskripsi.
Dengan bentuk kegiatan yang seperti itu, peserta didik merupakan pribadi pembelajar dan pemberi makna puisi yang diapresiasinya. Pendidik dalam kegiatan itu hanya berperan sebagai (a) penghadir rangsangan, (b) penyampai pedoman dan petunjuk bersifat lentur, (c) memberi dukungan dan pantauan (tut  wuri hkitayani), (d) pendiagnosis kesulitan yang dialami peserta didik, dan (e) pada saat yang tepat harus mampu mengendalikan PBM sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang diharapkan.
Dengan mendudukkan peserta didik sebagai subjek pemberi makna, diharapkan mereka juga me-miliki kemapuan dalam merekonstruksi dunia sim-bolik dalam  kesadaran batinnya secara benar-benar dan  mandiri. Sebab menurut Gadmer (dalam Eagleton 1983:71), bahwa ”…. All interpretation pf past work consist in a dialoque between pastand present”.
Berdasarkan pendapat itu jelas bahwa karya sas-tra tidak selalu harus disikapi sebagai realitas fisikal semata, melainkan juga mengandung aspek metafi-sikal. Karena itu wajar pabila pemahaman terhadapnya bukan hanya berasal dari proyeksi tentang  dirinya se-mata, melainkan juga dibuahkan dari abstraksi sesuai dengan tanggapan yang dimiliki pembaca seperti yang dianjurkan Deeley (1986:270) yang mengatakan bah-wa ”The dialectic of sciectic and humanistic modes of understanding is grasp of physical reality
Sebagai contoh berikut ini ditampilkan bagaimana penerapan pola pengajaran mengapresiasi puisi berdasarkan pendekatan pragmatik tersebut, sehingga dapat dibandingkan dengan pola pembelajaran apresiasi sastra berdasarkan pendekatan struktural.
Senja Di Pelabuhan Kecil
Buat: Sri Aryati
Ini kali, tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya maut berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelopak elang
Menyinggung muram, deir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini, tanah, air, tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menusur  semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba diujung dn sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Chairil Anwar, 1946
Kegiatan Pembelajaran:
1)   Tahap Orientasi
(a)    Pendidik membacakan puisi tersebut dengan suara keras dan estetis, sehingga peserta didik dapat memahami suasana kejiwaan puisi terse-but.
(b)   Peserta didik model disuruh membaca dengan penjiwaan puisi tersebut (bisa dimanfaatkan re-kaman kaset jika dalam kelas tersebut tidak ada pembaca puisi yang baik)
(c)    Pendidik meminta respons peserta didik secara global tentang masalah yang terungkap dari puisi yang dibacakan tersebut. Peserta didik merespon bahwa masalah yang terungkap dari  puisi yang baru dibacakan itu adalah masalah kesedihan Chairil Anwar, Sri Aryati. Masalah yang dikemukakan peserta didik ini dijadikan lkitasan pikir untuk tahap selanjutnya.

2)   Tahap Iventarisasi
Pada tahap ini pengajar menyuruh peserta didik untuk mengiventaris dari bangun struktur puisi tersebut yang dapat mendukung permasalahan yang telah disepakati terdahulu, seperti daris unsur bunyi, diksi, pelambangan, pengiasan, dan dari segi bait puisi, sehingga diperoleh data-data yang konkret untuk mendukung masalah utama.

3)   Tahap Komprehensi atau Analisis
Pada tahap ini peserta didik mengapresiasi atau menganalisis semua unsur yang telah diiventaris-nya tersebut dalam bentuk berikut:
(a)    Ditinjau dari unsur Rima Puisi
Ditinjau dari unsur ini, Chairil Anwar telah memanfaatkan bunyi secara kuat untuk meng-ungkapkan suasana kedukaan kesedihan kedu-kaan itu. Perpaduan bunyi vokal /a/ dan /u/ dalam puisi tersebut secara nyata telah memper-kuat warna kedukaan. Demikian juga peduan konsonan. Dipilihnya  kata / senja/ buka / sore/ karena kombinasi vokal / a / dengan konsonan / j / lebih kuat  efek dukanya daripada / re / yang bernada riang. Demikian juga kata / kapal / le-bih mengandung kesenduan daripada / sampan /. Ungkapan / terdampar kelepak elang / juga ikut memperkuat suasana kedukaan itu, dengan dominasi konsonan / k/ dan / l / serta vokal / a /.
(b)   Ditinjau dari segi Ritma
Dilihat dari sudut ini, puisi ini dibangun dengan ritma yang bebas, dengan pemotongan kalimat menjadi dua klausa. Misalnya:
Ini kali / tidak ada yang mencari cinta.
Di antara gudang / rumah tua pada cerita

Pemotongan yang  demikian menimbulkan alur yang teratur dan memperkuat suasana kesepian dan duka yang dalam bila dibaca pelan dan syahdu.
(c)    Ditinjau dari Diksi/Gaya bahasa
Pemilihan kata dan gaya bahasa yang diguna-kan dalam puisi ini, merupakan pemilihan kata dan  gaya bahasa cukup mendukung masalah kesepian dan duka. Kemahiran Chairil meramu dan merangkai kata-kata dan gaya bahasa, telah membuat nada duka secara wajar. Kata-kata seperti: kapal, perahu tiada berlaut, senja, gerimis, kelam merupakan kata-kata yang cu-kup mendukung permasalahan itu, yakni masa-lah duka dan rasa sepi yang mencekam.
(d)   Ditinjau dari Pelambangan
Sebagai seorang penganut paham ekspresi-nis-me, Chairil melambangkan perasaan, visi dan pikiranya dengan lambang-lambang yang ber-sifat visual. Perahu dijadikanya sebagai lam-bang kehidupan manusia. Bila perahu itu ber-laut jelas hal ini melambangkan kehidupan ma-nusia yang duka dan tidak punya kegembiraan lagi. Pantai, merupakan lambang tujuan hidup-nya dalam mencapai cintanya pada Sri Aryati. Jadi, kekecewaan cintanya itulah yang menye-babkan Chairil melambangkan duka hatinya dengan ”dari keempat sedu penghabisan bisa terdekap”, seolah-olah hidupnya tak punya arti lagi seperti yang dilambangkan dengan ”Tanah dan air hilang ombak”.
(e)    Ditin jau dari Segi Pengiasan
Penngiasan dalam puisi ini, juga mendukung keduakaan puisi. Cinta  lama yang tak mungkin kembali lagi padanya,  dikiaskannya dengan ”Ini kali tidak ada yang mencari cinta, di antara gudang, rumah tua pada cerita”.
(f)    Ditinjau dari Bait Puisi
Puisi tersebut terdiri atas tiga bait. Pada bait pertama, Chairil mengemukakan gambaran perasa-annya  dengan benda-benda di sekitarnya, seperti de-ngan pemilihan kata gudang, rumah tua, tiang temali, kapal, perahu, dan laut. Hal ini menunjukan bahwa penyair memang dihimpit perasaan kacau. Kemudian pada bait kedua, gambaran perasaan itu dilambang-kannya dengan suasana yang semakin menyempit, yakni dengan ”Pelabuhan yang lengang”. Pada baik ketiga, kelihatanlah bahwa Chairil tak kuasa lagi menahan duka atau perasaan sepi tersebut.
/aku sendiri/ berjalan / menyusur semenanjung / masih pengap harap / sekali tiba di ujung, dan sekalian selamat jalan …..

4)   Tahap Orasi
Pada tahap ini peserta didik mendiskusikan hasil analisisnya tersebut di dalam kelas dengan menunjuk peserta didik yang akan ditampilkan hasil analisisnya. Dari kegiatan orasi ini peoerta didik akan memperoleh umpan balik, baik dari temannya sendiri maupun dari arahan-arahan pengajar selama diskusi berlangsung.

5)   Tahap Re-Deskripsi
Setelah menganalisis puisi tersebut secara mendalam, maka tahap re-deskripsi ini peserta didik dapat menggambarkan permasalahan dan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi yang diapresiasikannya tersebut.
Mengacu pada tahap-tahap pelaksanaan pem-belajaran apresiasi  Puisi berdasarkan pendekatan pragmatik di atas, jelas bahwa makna teks  sastra (dlam hal ini teks puisi) ada dalam potensialitas dan bersifat terbuka, seperti yang dikemukakan Isser bahwa ”The openness of fictional texts can be climinated only in  the act of reading. Only in the act of reading can in-insdeterminancy be replaced by meaning” (Isser dalam Fokkema dan Kunne—Ibsch, 1977:97). Itulah sebabnya pemahaman sebuah teks harus melibatkan interpretasii pembacanya secara personal. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar