Senin, 16 Januari 2012

Cerpen "Si Padang" Karya Harris Effendi Thahar : Kajian Sosiologis


Cerminan Realitas Sosial Masyarakat Minangkabau
dalam Cerpen “Si Padang” Karya Harris Effendi Thahar
Yasnur Asri

Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas sosial masyatrakat Minangkabau dalam Cerpen “Si Padang” karya Harris Effendi Thahar. Pendektan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan mimesis. Pendekatan mimesis beranggapan bahwa untuk menyelidiki karya sastra tidak cukup hanya dengan menyelidiki karya secara otonom, melainkan perlu dikaitkan dengan konteks sosialnya, realitas objektif  yang menjadi sumber penciptaan oleh sastrawan. Teknik analisis dimulai dari teks sastra dan mengungkapkan faktor-faktor sosial yang ada di dalamnya, kemudian menguji kepada faktor sosial masyarakat yang menjadi topik penceritaan. Hasil analisis menunjukkan cerpen ”Si Padang” merupakan cerpen yang berhasil mengungkapkan realitas sosial masyarakat Minangkabau saat ini, yaitu masalah ketidakharmonisan hubungan mamak kemenakan. Sebagai pencerminan realitas sosial budaya masyarakat Minangkabau, cerpen ini merupakan pembenaran dari pendapat hoggart yang mengatakan bahwa karya sastra pada semua tingkat disinari oleh nilai-nilai yang ditetapkan dan nilai-nilai yang diterapkan. Oleh sebab itu yang dilakukan Harris adalah meyakinkan dan menunjukkan bahwa karyanya ini betul-betul berintegrasi dengan kehidupan individu dan masyarakat dalam struktur masyarakatnya.

Kata Kunci: Pencerminan, Realitas sosial, cerpen, masrakat Minangkabau

A.  Pendahuluan

Pendekatan mimesis merupakan salah satu pendekatan kritik sastra di samping pendekatan lainnya, seperti pendekatan objektif, ekspresif, dan pragmatis. Pendekatan mimesis beranggapan bahwa untuk menyelidiki karya sastra tidak cukup hanya dengan menyelidiki karya secara otonom, melainkan perlu dikaitkan dengan konteks sosialnya, realitas objektif yang menjadi sumber penciptaan oleh sastrawan. Motto “Seni untuk masyarakat” merupakan letupan pemikiran pelaku sastra, yang bertolak dari pendekatan mimesis. Jadi dalam penyelidikan, penilaian, dan kritik selalu mengaitkan karya sastra dengan masyarakat pendukungnya, masyarakat sumbernya, masyarakat tujuannya, dan masyarakat pengarangnya. Oleh karena itu, pemahaman karya sastra tidak bisa melepaskan diri dari konteks kultural dan masyarakatnya.
Menghubungkan karya sastra dengan masyarakat, bukan berarti harus mengabaikan data-data struktur karya sastra tersebut. Penyelidikan awal tetap bermula dari pengamatan data-data struktur karya tersebut, namun tidak berhenti setelah penyelidikan struktur berakhir. Data-data struktur yang ditemukan itu harus diuji, dinilai, dan diproyeksikan kepada masyarakatnya. Semakin tinggi kerelevanan realitas sosio-budaya dalam karya sastra dengan realitas sosio-budaya masyarakat, maka semamin bermutu karya sastra tersebut. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kerelevanannya dengan realitas sosio-budaya masyarakat, semamin rendah mutu karya sastra tersebut.
Harris Effendi Thahar sebagai penulis cerpen “Si Padang” tentulah menulis berlatarbelakangkan budaya Minangkabau. Sebab, Harris yang lahir, hidup dan menetap di kawasan budaya Minangkabau, tentulah menjadikan permasalahan budaya itu sebagai objek permasalahan cerpennya. Cerpen bagi Harris Effendi Thahar adalah  untuk memaparkan dilema budaya Minangkabau, dan alat untuk mengemukakan visi, reaksi dan opininya. Hal ini sejalan dengan pendapat Hoggart (1975 : 162) yang mengatakan bahwa karya sastra membantu untuk menceritakan kembali apa yang dicenderungi sastrawan tentang nilai-nilai suatu masyarakat.  Karya sastra pada semua tingkat selalu disinari oleh nilai-nilai yang ditetapkan. Oleh sebab itu yang dilakukan pengarang adalah meyakinkan dan menunjukkan bahwa sastra betul-betul berintegrasi dengan kehidupan individu-individu dalam struktur masyarakat.
Pengarang adalah produk zamannya, dan demikian menghormatinya, sehingga kita harus menyelidiki ke dalam hakikat dari pengaruhnya mana yang telah membentuk pikirannya, melenyapkan seleranya dan membantu melukiskan watak pada karyanya (Hudson, 1955:4). Karya sastra berperanan bagaimana merasakan hidup di dalam ataupun di luar nilai-nilai ini, dan teristimewa apa tekanan dan ketegangan yang timbul dengan hidup di luar ini. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Goenawan Mohammad (1972: 26) yang mengatakan bahwa  pada akhirnya dengan materi sastra itu berfungsi untuk mempertajam dan membikin lebih intens penghayatan kita para pembaca kepada hal-hal dalam kehidupan dan akhirnya kepada kehidupan itu sendiri (Mohammad, 1972: 26).
Kajian sosiologi selalu mengaitkan antara karya sastra dengan masyarakat pendukungnya, masyarakat sumbernya, masyarakat tujuannya, dan masyarakat pengarangnya. Untuk menganalisis cerpen ”Si Padang” karya Harris Effendi Thahar ini haruslah disertai dengan penyelidikan sistem sosial budaya masyarakat Minangkabau dan prilaku anggota masyarakatnya. Bobot cerpen ”Si Padang” akan ditentukan oleh tingkat kerelevanannya dengan konteks sosialnya, masyarakat Minangkabau. Permasalahannya sekarang adalah ”Seberapa jauhkah cerpen ini menggambarkan prilaku anggota masyarakat Minangkabau?”; dan ”Bagaimanakah tingkat kerelevanan cerpen ini dengan sistem sosial budaya Minangkabau?”

B.  Pendekatn yang Digunakan
Untuk menjawab pertanyaan di atas, pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan sosiologis, karena sejak semula anggapan dasar tulisan ini bertolak dari keyakinan bahwa sastra itu merupakan pengucapan pengalaman realitas budaya dan dan sebagi ekspresi budaya. Objek kajian pendekatan sosiologis adalah keterkaitan atau kerelevanan antara realitas imajinatif (realitas sosial dalam karya sastra) dengan realitas objektif (realitas sosial masyarakat). Untuk sampai kepada kesimpulan bahwa realitas sosial yang diceritakan dalam karya sastra itu merupakan pencerminan realitas sosial objektif diperlukan teknik analisis.
Menurut Damono (1978) dan Junus (1986) ada dua teknik analisis yang dapat kita lakukan dalam menganalisis karya sastra sebagai pencerminan realitas sosial. Pertama, analisis dimulai dengan teknik pemahaman latar atau lingkungan sosial untuk masuk kepada hubungan sastra dengan faktor-faktor di luar sastra seperti tercermin dalam karya sastra. Teknik ini melihat faktor sosial yang ”menghasilkan” karya sastra pada suatu kurun waktu tertentu. Dengan menggunakan teknik ini, berarti kita melihat faktor sosial sebagai mayor analisis dan karya sastra sebagai minornya. Maksudnya adalah teknik ini bergerak dari sosiologi untuk lebih memahami faktor-faktor sosial yang terdapat di dalam karya sastra.
Kedua, teknik analisis dimulai dari teks sastra dan mengungkapkan faktor-faktor sosial yang ada di dalamnya, kemudian menguji kepada faktor sosial masyarakat yang menjadi topik penceritaan. Teknik ini mengutamakan teks sastra sebagai fenomena utama bahan utama analisis (mayor analisis) dan fenomena sosial masyarakat sebagai minornya. Teknik yang dipergunakan dalam telaah sosiologi sastra ini adalah analisis teks sastra untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi fenomena sosial yang ada di luar teks.
Kajian ini memilih teknik analisis yang kedua, yaitu  yang menjadi teks (dalam hal ini cerpen Si Padang) sebagai mayor dan realitas sosio-budaya  Minangkabau sebagai mayornya. Melalui teknik ini, bobot cerpen ”Si Padang” akan ditentukan oleh tingkat kerelevanannya dengan konteks sosialnya, masyarakat Minangkabau. Di dalam kajian ini, penerapan teknik analisis tersebut dilakukian dengan langkah-langkah berikut: (1) penentukan latar cerita untuk mengetahui gambaran masyarakat yang menjadi topik cerita dalam karya yang dianalisis; (2) penentuan tokoh berserta perannya; (3) penentuan hubungan antarperan serta tokoh yang terlibat untuk menentukan permasalahan cerita; (4) perumusan masalah berdasarkan hubungan antarperan; (5) mengkaji hubungan permasalahan yang dirumuskan, baik secara normatif, secara fiktif, maupun secara objektif; dan (6) interpretasi data untuk menentukan tingkat kerelevanan antara realitas fiksi dengan realitas sosiobudaya masyarakat.  Perolehan hasil analisis dari penerapan langklah-langkah kerja di atas adalah sebagai berikut.

C.  Hasil Kajian dan Pembahasan
1.     Penentuan latar
Cerpen ”Si Padang” mengungkapkan kehidupan masyara-kat Minangkabau pada dekade 80-an. Ada beberapa petunjuk dari data-data struktur cerpen ini tentang hal itu, seperti kutipan berikur:

Apalagi sudah lama rokok merupakan barang mewah
  Sejak aku turun kapal Kerinci dari Padang seminggu
  yang lalu”.

 ”Kemenakan Datuk ini sudah tiga kali ikut tes
   Sipenmaru. Dan nasibnya menentukan lain”.

Kata-kata yang menunjukkan indikasi dekade 80-an itu adalah Kapal Kerinci dan tes Sipenmaru,  sebab pada dekade 70-an ke bawah belum dikenal istilah Kapal Kerinci dan tes Sipenmaru. Kapal laut yang melayani trayek pada dekade 70-an adalah Kapal Batang Hari, kemudian Kapal Tampomas. Sedangkan tes masuk perguruan tinggi sebelumnya disebut dengan tes Skalu dan tes Proyek Perintis. Dengan penyebutan tes Sipenmaru dalam cerpen ini, terlihatlah pengarang ingin mengungkapkan suatu permasalahan masyarakat Minangkabau dekade 80-an.
            Permasalahan masyarakat Minangkabau dekade 80-an ini, juga dibatasi pengarang terhadap masyarakat Minangkabau perantauan. Indikasi itu terlihat dengan pengambilan latar kota Jakarta sebagai tempat berlangsungnya peristiwa. Namun demikian, bukan berarti tidak mempunyai kaitannya dengan masyarakat Minangkabau yang menetap di daerah asalnya. Dalam hal ini kota Jakarta dilihat sebagai simbol perubahan sosial. Oleh sebab itu, permasalahan cerpen ini dapat saja berhubungan dengan pergeseran nilai-nilai sosial budaya masyarakat Minangkabau yang diamati atau dialami pengarang.
            Dengan melalui latar tempat dan waktu dalam cerpen ini dapat disimpulkan untuk sementara bahwa cerpen ”Si Padang” berbicara tentang perubahan sistem sosial budaya Minangkabau. Prilaku tokoh cerpen dan kaitannya dengan data-data realitas objektif harus diselidiki untuk mendapatkan data-data sebagai bukti selanjutnya.

2.    Penentuan Peran dan Hubungan Antarperan
Sosok pribadi dalam masyarakat Minangkabau tidak hanya memerankan satu peran dalam kehidupannya. Sosok pribadi itu selalu memerankan peran ganda, misalnya di samping peran sebagai pemimpin bisa juga berperan sebagai bawahan, kepala keluarga, tokoh masyarakat, suami atau istri, kemenakan dan lain-lain. Karya sastra sebagai pencerminan tatanan kehidupan masyarakat, akan mengetengahkan berbagai peran yang diperankan tokoh cerita. Tidak ada dalam karya fiksi seorang tokoh cerita hanya memerankan satu peran saja. Penga-rang akan memberikan berbagai peran terhadap tokoh-tokoh ceritanya.
Dalam cerpen ”Si Padang” seorang tokoh minimal meme-rankan dua peran. Iventarisasi peran tokoh-tokoh cerpen ”Si Padang” itu adalah sebagai berikut.

1.    Tokoh Lidia memerankan peran: siswa, kekasih, majikan, tu-an rumah, anak, dan gadis kota.
2.    Tokoh Mansur memerankan peran: penganggur, anak, keme-nakan, tamu, pekerja/bawahan, pemuda kampung, dan peno-long.
3.    Tokoh Haji Kiram memerankan peran: mamak, ninik mamak (penghulu), suami, ayah, kekasih, majikan, tuan rumah, dan orang kaya (orang berduit).
4.    Tokoh Basril memerankan peran: kemenakan, pekerja, teman.
5.    Tokoh Mamak Basril memerankan peran: mamak, tuan ru-mah, dan majikan.
6.    Tokoh Ginah dan Parmin memerankan peran: pembantu, tuan rumah, dan tukang kebun.
7.    Tokoh Tante memerankan peran: tamu, tuan rumah, dan majikan.
Dengan demikian, sebuah peran dapat saja diperankan oleh beberapa tokoh sekaligus. Dalam hal penyelidikan perma-salahan haruslah dilihat dari sudut peran dan bukan dari sudut tokoh. Permasalahan akan terlihat, jika peran yang satu dihu-bungkan dengan peran yang lain. Beberapa peran yang diperan-kan tokoh-tokoh cerita tersebut dapat dihubungkan atau dikelom-pokkan menjadi:
a)    mamak dan kemenakan
b)   anak dan orang tua (ayah dan ibu)
c)    majikan dan pekerja; atau majikan dan pembantu
d)   tuan rumah dan tamu
e)    suami dan istri
f)    penganggur dan pekerja
g)   pemuda/gadis kampung dan pemuda/gadis kota
h)   penolong dan petolong
i)     si kaya dan si miskin
j)     teman dengan teman (lelaki atau perempuan)
k)   kekasih (laki-laki) dan kekasih (perempuan)
Pengelompokan hubungan peran-peran tersebut, sekaligus dapat dipandang sebagai topik-topik yang dibicarakan pengarang dalam karyanya. Topik-topik ini membantu peneliti untuk mene-lusuri lebih jauh permasalahan-permasalahan yang terdapat da-lam karya sastra. Berdasarkan data-data hubungan peran di atas, setidak-tidaknya sudah ada sebelas kandidat permasalahan yang disinggung pengarang dalam karyanya. Kesebelas kandidat per-masalahan itu dapat dirumuskan melalui konflik-konflik tokoh yang memerankannya. Jika terdapat peran yang tidak didukung oleh konflik, maka hubungan peran itu tidak dapat dilanjutkan sebagai penanda adanya permasalahan.
Sebagai contoh adalah topik (k) kekasih dengan kekasih yang tidak terdapat konflik antara kedua peran itu. Tidak ada konflik antara Lidia dengan pacarnya, begitu juga dengan tokoh Haji Kiram yang tidak mempunyai konflik dengan gundiknya. Konflik batin hanya muncul pada tokoh Mansur yang menyak-sikan hubungan kekasih Lidia dengan pacarnya dan Haji Kiram dengan gundiknya. Konflik batin Mansur itu dapat dipandang dalam posisinya memerankan  sebagai pemuda kampung yang baru datang di kota besar (Jakarta). Maka dalam hal ini perma-salahan percintaan (topik k) tidak bisa dilanjutkan sebagai per-masalahan yang harus dikonfirmasikan dengan konteks sosial. Permasalahan tersebut harus ditempatkan sebagai permasalahan yang mengetengahkan perbedaan prilaku pemuda kampung de-ngan pemuda kota (topik g).
Mengikuti pola uji seperti disebutkan, maka tinggalah topik: mamak dan kemenakan (topik a); anak dan orang (topik b); majikan dan pembantu (topik c); tuan rumah dan tamu (d); dan pemuda kampung (desa) dan pemuda kota (topik g), sebagai penyumbang  permasalahan cerpen. Sedangkan topik suami dan istri (topik e), penganggur dan pekerja (topik f); penolong dan petolong (topik h); si kaya dan si miskin (topik i); teman dan teman (topik j); dan kekasih dengan kekasihnya ( topik k), tidak dapat dilanjutkan sebagai penyumbang permasalahan, sebab topik-topik tersebut tidak didukung oleh konflik tokoh yang mendukung peran. Namun demikian, topik-topik itu masih ber-guna dalam menunjang penyelidikan. Topik-topik tersebut dapat dipandang sebagai latar tokoh atau pendukung peran.
Topik mamak dan kemenakan (topik a) didukung oleh beberapa tokoh, seperti tokoh Haji Kiram Datuk Nan Kuniang Timbago Cahayo Nago sebagai mamak di kampung dan di kota, serta sebagai ninik mamak di desa; tokoh mamak Basril sebagai mamak di kota, baik sebagai mamak dekat maupun mamak jauh; tokoh Mansur bin Maliki sebagai kemenakan dekat di desa dan di kota, juga sebagai kemenakan jauh di kota; tokoh Basril sebagai kemenakan dekat di kota; serta tokoh masyarakat desa sebagai kemenakan jauh dari Haji Kiram.
Topik anak dan orang tua (topik b) hanya didukung oleh dua orang tokoh, yaitu tokoh Haji kiram sebagai orang tua; dan tokoh Lidia sebagai anak. Sedangkan tokoh Mansur tidak dapat dianggap mendukung topik ini, sebab Mansur sebagai anak tidak mempunyai konflik dengan ibunya. Begitu juga tokoh Tante wa-laupun ia ibu tiri dari Lidia, tetapi tidak mempunyai konflik dengan Lidia, maka tokoh Tante pun tidak dapat dipandang un-tuk mendukung topik ini.
Topik majikan dan pembantu (topik c) hanya didukung oleh tiga tokoh, yaitu: tokoh Lidia sebagai majikan; tokoh Haji Kiram sebagai majikan di rumah, tetapi Haji Kiram di tokonya tidaklah dapat dianggap mendukung topik ini; dan tokoh Parmin dan Ginah sebagai pembantu. Hubungan majikan dan pembantu/ pekerja ini seolah-olah muncul juga pada tokoh mamak Basril. Mamak Basril dan Mansur, namun hubungan peran ini juga tidak memunculkan konflik.
Topik tuan rumah dan tamu (topik d) didukung oleh to-koh-tokoh: Tante sebagai tuan rumah; tokoh Lidia sebagai tuan rumah; tokoh mamak Basril sebagai tuan rumah; dan tokoh Mansur sebagai tamu. Sedangkan topik pemuda desa dan pemu-da kota (topik g) hanya didukung oleh tokoh Lidia sebagai pemuda kota, dan Mansur sebagai pemuda desa. Jikapun ada tokoh lain seperti Pacar Lidia dan Basril, ternyata juga tidak mendukung topik ini.
Dari lima topik yang di atas, ternyata topik mamak dan kemenakan (topik a) yang didukung banyak tokoh. Dengan demikian pada topik hubungan mamak dan kemenakan inilah terletak permasalahan utama cerpen “Si Padang”. Sedangkan topik-topik lain merupakan permasalahan penunjang, persen-tuhan tokoh-tokoh cerpen ini harus di tempatkan sebagai pendu-kung permasalahan hubungan mamak dan kemenakan.

3.    Permasalahan Mamak dan Kemanakan
a)      Secara Normatif
Dalam sistem sosial budaya Minangkabau, mamak adalah saudara laki-laki dari ibu. Dalam arti luas mamak adalah semua kaum lelaki. Kemenakan adalah anak dari saudara perempuan, dalam arti luas kemenakan adalah semua anak dari saudara perempuan yang sepersukuan. Penataan kehidupan dalam sepersukuan, mamak adalah pemimpin terhadap kemenakan yang sepersukuan dengannya. Penunggalan kepemimpinan dalam satu persukuan dipilih salah seorang mamak yang diangkat menjadi penghulu dengan gelar Datuk. Hirarki hubungan mamak dengan kemenakan diatur sebagai tertuang dalam pepatah berikut ini.

Kemenakan beraja kepada mamak
Mamak beraja kepada penghulu
Penghulu beraja kepada musyawarah
Musyawarah beraja kepada alur dan patut

            Dari ketentuan itu jelaslah bahwa kemenakan dipimpin oleh mamak. Buruk baiknya seseorang kemenakan sangat ditentukan oleh kepemimpinan mamaknya, dalam bentuk yang lebih luas oleh kepemimpinan penghulunya. Kemenakan harus menyandarkan nasibnya kepada mamaknya, dan mamak berke-wajiban untuk mengikhtiarkan kemajuan atau perbaikan nasib kemenakannya. Namun ada pula kemungkinan mamak tidak ha-rus ditaati kemenakannya, bila mamak tersebut memimpin secara tidak bijaksana dan hanya mementingkan diri sendiri. Seorang mamak dapat didaulat ataupun disanggah, seperti pepatah berikut ini.


            Raja adil, raja disembah
                Raja lalim, raja disanggah

            Antara mamak dan kemenakan terdapat hubungan yang harmonis, saling memberi dan saling menerima, ada pembagian tugas dan tanggung jawab. Hal ini dengan jelas terungkap pada pepatah-petitih adat Minangkabau berikut.

            Kemenakan manyambah laia
                Mamak manyambah batin
                Kemenakan bapisau tajam
                Mamak badagiang taba

                (Kemenakan menyembah secara lahir
                Mamak menyembah secara batin
                Kemenakan mempunyai pisau tajam
                Mamak mempunyai daging yang tebal)

            Berdasarkan hal tersebut, mamak mempunyai tugas untuk memberikan arahan secara pemikiran kepada kemenakan, dan kemenakan harus melaksanakan semua arahan mamaknya. Pe-kerjaan yang berat-berat yang memerlukan kekuatan fisik harus dilakukan oleh kemenakan, sedangkan pekerjaan yang memer-lukan ketajaman psikis harus dikelola oleh mamak. Mamak ber-kewajiban membantu kemenakannya, sebab mamak itulah yang mempunyai daging tebal (menguasai atau memiliki kekayaan). Sudah lazim jika kemenakan meminta bantuan mamaknya, wa-jarlah daging tebal mamak itu dipotong-potong oleh pisau tajam kemenakan.
            Seorang lelaki Minangkabau merupakan sosok pribadi dwifungsi, yaitu di satu sisi ia adalah mamak dari kemenakan-nya, sedangkan di pihak lain ia adalah ayah dari anak-anaknya. Seorang lelaki Minangkabau harus memperhatikan dan membimbing anak dan kemenakannya, tanpa harus memihak pada anak saja atau kemenakan saja. Anak dan kemenakan bagi seorang lelaki Minangkabau ditempatkan dalam posisi:

            Anak dipangku, kemenakan dibimbing

Dapat saja seorang lelaki tersebut mengutamakan anaknya, tetapi tidak boleh meninggalkan kemenakannya.
            Demikianlah pengaturan hubungan mamak dan kemena-kan menurut sistem sosial budaya Minangkabau. Antara mamak dan kemenakan terdapat hubungan yang harmonis, tanpa harus merusak hubungan anak dan ayahnya.

b)     Secara Fiktif
Dalam cerpen ”Si Padang” tokoh lelaki Minangkabau yang berperan sebagai mamak sekaligus ayah adalah Haji Kiram Datuak Nan Kuniang Timbago Cahayo Nago. Ia berperan sebagai mamak dalam hubungannya dengan tokoh Mansur bin Maliki. Ia seorang ayah dalam hubungannya dengan tokoh Lidia. Pertemuan Haji Kiram dengan Mansur menghadirkan dilema hubungan mamak dan kemenakan.
Haji Kiram merupakan profil tokoh perantau Minang yang sukses di Jakarta. Sementara Mansur merupakan sosok pemuda Minang yang putus pendidikan, penganggur di kampungnya. Ketika Haji Kiram pulang kampung, ibu Mansur mengantarkan Mansur menemui Haji Kiram untuk meminta pertolongan, mencarikan pekerjaan untuk Mansur di Jakarta. Sebagai seorang mamak, Haji Kiram menyanggupi untuk membantu Mansur, seperti tertera dalam kutipan berikut.

”’Iya Datuk. Tapi kalau boleh bagaimana si Mansur
  ini cari kerja di Jakarta saja Datuk. Maksud saya
  atas pertolongan Datuk’, kata ibu terbata-bata dan
  tak berani menatap mata Datuk yang gagah itu.
  ‘Baik. Kalau mau kerja, di Jakarta memang banyak
  Pekerjaan. Asal jangan suka pilih-pilih dulu. Kalian
  Tahu sejarahku dulu di Jakarta bukan?
  ‘Tahu Datuk’, jawabku serentak dengan ibu”.

Maka datanglah Mansur ke Jakarta dan tinggal bersama mamak-nya itu. 
            Sesampai di Jakarta, Mansur tidak mendapatkan pelayan-an sebagaimana yang dijanjikan mamaknya di kampung. Jangan-kan Mansur dicarikan pekerjaan oleh mamaknya, berkomunikasi dengan Haji Kiram saja pun tidak ada. Meskipun Mansur tinggal di rumah mamaknya itu. Perhatikanlah pengakuan Mansur dalam cerpen itu:
            ”Sejak seminggu yang lalu aku menginjakkan kaki
                 di kota Jakarta ini, baru dua kali bertemu puncak
                 hidung mamakku itu. Pertama ketika turun dari kapal,
                  dan kedua, ketika aku datang ke tokonya melihat-
                  lihat tanpa dapat bicara banyak ....”
           
            Sambutan istri Haji Kiram terhadap Mansur tidak ada bedanya dengan Haji Kiram sendiri. Pertemuan anggota keluarga Haji Kiram (istri dan anak-anaknya) tidak ada dengan Mansur, sebab semua mereka pergi pagi-pagi dan pulang malam-malam. Suasana rumah Haji Kiram membuat Mansur tekagum-kagum akan kemewahannya, tetapi menimbulkan kejutan psikis bagi Mansur tentang hubungan-hubungan individu penghuninya. Beginilah gambarannya:

Di rumahnya yang bertingkat seperti istana dan berpagar tembok dan besi   yang tinggi ini, suasana begitu lain. Mamakku mempunyai mobil dan sopir, berangkat pagi-pagi. Tanteku juga begitu. Mereka pulang malam-malam. Anak-anaknya yang besar-besar (entah berapa anaknya, aku tidak tahu persis) begitu juga. Karena, selain Lidia, tak seorangppun yang diperkenalkan kepadaku. Mana yang sudah kawin atau yang masih pacaran, juga aku tidak tahu persis. Rumah itu mirip hotel mewah. Tiap-tiap orang punya kemedekaan di kamarnya. Di depan, di samping, atau di belakang ada taman yang ditata rapi.”

Sungguhpun begitu kemewahan rumah Haji Kiram, namun tamunya yang juga merupakan kemenakan kandung Haji Kiram, hanya ditempatkan di kamar pembantu bersama-sama dengan pembantu Si Parmin. Semua keperluan Mansur di rumah mamaknya itu hanya dilayani oleh pembantu, Parmin dan Ginah. Mansur tidak puas atas perlakuan mamaknya dan keluarga mamaknya. Ketidakpuasan Mansur itu terlihat pada sumpah serapahnya terhadap Lidia, anak mamaknya yang masih siswa SMA.

”Sial. Lancang keterlaluan! Diancuk!” Sumpahku tak kedengaran. Habis, aku benar-benar merasa terhina. Tak biasanya di kampungku orang yang lebih tua disuruh-suruh begitu. Disuruh beli rokok lagi. Untuk pacarnya pula lagi. Gila!
”Suruh Parmin aja Lid. Aku aku capek seharian menapaki Jakarta cari kerja.”
”Parmin lagi ngggak ada. Hayo cepet doong. Ntar dapat persennya. Mending bali rokok, kan, dari pada tidur-tiduran gratis dan makan gratis di rumah gue,” ujarnya seperti tidak punya beban perasaan sedikitpun ....”

Dari gambaran beberapa kutipan cerpen di atas, maka terlihatlah betapa tidak harmonisnya hubungan mamak dan kemenakan dalam cerpen ”Si Padang”. Ketidakharmonisan itu tidak hanya berlangsung di daerah perantauan, tetapi hubungan mamak dan kemenakan melalui tokoh Haji Kiram dan Mansur sudah tidak harmonis sejak dari kampung halaman. Ketidakharmonisan itu disebabkan karena hubungan mamak dan kemenakan terputus, Mansur meninggalkan mamaknya. Bahkan Mansur tidak mau memperkenalkan dirinya kepada mamaknya, ketika satu saat Haji Kiram menumpang taksi yang dikemudikan Mansur. Jika pun Mansur datang juga ke rumah mamaknya itu, bukan karena terpaut dengan Haji Kiram selaku mamaknya, tetapi terpaut dengan Lidia selaku gadis remaja. Mansur jatuh cinta kepada Lidia.
            Namun dalam cerpen ”Si Padang” ini, terlihat pula hubungan mamak dan kemenakan yang harmonis, yakni antara tokoh Basril dan mamaknya. Mamak Basril dan keluarganya merupakan kebalikan dari Haji Kiram dan keluarganya. Basril dapat bimbingan dari mamaknya dan dapat pelayanan yang memuaskan dari keluarga mamaknya. Bahkan kehadiran Mansur pun di tengah-tengah keluarga mamak Basril mendapat perlakuan yang sama dengan Basril. Perhatikanlah kutipan berikut ini:

              Mamak Basril memang lain dengan mamakku. Kedatanganku disambut dengan meriah oleh keluarganya. Dan merasa semakin senang ketika kukatakan bahwa aku ingin ikut jadi sopir taksi atau bekerja di bengkel, karena aku lulusan STM bagian mesin ....”

Dengan demikian ada dua tipe hubungan mamak dan kemenakan dalam cerpen ”Si Padang”, yakni hubungan yang harmonis dan hubungan yang tidak harmonis. Tetapi, dapat pula ditegaskan bahwa hubungan yang tidak harmonis mendapat tempat yang dominan dalam cerpen ini.

c)    Secara Objektif
Untuk mendapatkan data-data objektif perlu dilakukan observasi lapangan terhadap prilaku sosial anggota masyarakat Minangkabau tersebut. Untuk kepentingan ini telah dilakukan suatu penyebaran angket untuk menjaring data sosial tentang hubungan mamak dan kemenakan yang berlangsung atau sedang berlangsung, sesuai dengan masalah yang dirumuskan pada realitas fiktif . Sumber datanya diambil secara acak dari 60 orang masyarakat Minangkabau yang memerankan mamak dan kemenakan, baik yang berdomisi di daerah tiga luhak, rantau maupun daerah pesisir.  Mungkin sumber data ini belum representatif untuk keterwakilan prilaku sosial anggota masyarakat Minangkabau secara keseluruhan, tetapi dianggap cukup memberikan gambaran tentang hubungan mamak dan kemenakan dewasa ini.
Situasi umum hubungan antara mamak dan kemenakan dewasa ini menurut responden adalah sebagai berikut: yang menyatakan harmonis sekali hanya 3,2%; harmonis 16,2%, biasa-biasa saja 29%; kurang harmonis 48,4%; dan tidak harmonis 3,2%. Jika situasi hubungan mamak dan kemenakan itu dibatasi di kampung atau di desa-desa dengan menekankan sikap dan perlakuan mamak terhadap kemenakan, jawaban responden menunjukkan: baik sekali 6,5%; baik 38,7%; biasa-biasa 35,5%; kurang baik 19,3%; dan tidak 0%. Sebaliknya perilaku dan sikap kemenakan terhadap mamak di kampung atau di desa-desa adalah: baik sekali 3,6%; baik 51,7%; biasa-biasa 27,5%; kurang baik 17,2%; dan tidak baik 0%. Sedangkan sikap dan prilaku mamak terhadap kemenakan di perantauan adalah: baik sekali 3,2%; baik 38,7%; biasa-biasa 41,9%; kurang baik 16,2%; dan tidak baik 0%. Sebaliknya sikap dan prilaku kemenakan terhadap mamak di perantauan adalah: baik sekali 6,9%; baik 58,6%; biasa-biasa 24,2%; kurang baik 6,9%; dan tidak baik 3,4%.
Data-data itu menunjukkan bahwa keadaan hubungan mamak dan kemenakan dewasa ini berlangsung kurang harmonis. Walaupun kenyataan menunjukkan demikian, namun dalam sanubari setiap pribadi anggota masyarakat Minangkabau masih tersimpan suatu ide keharmonisan, baik ditinjau dari sudut kemenakan maupun mamak, baik di kampung maupun di peran-tauan. Hubungan batin yang terputus antara mamak dan kemenakan jumlahnya masih sangat sedikit hanya sekitar 20%, walaupun hubungan lahir yang terputus itu mencapai 51,6%.
Tentang penyebab terputusnya hubungan mamak dan kemenakan itu ada tiga bentuk, yakni: (1) mamak tidak pernah lagi memperhatikan kebutuhan material kemenakan (38,1%); (2) mamak tidak lagi memperhatikan kebutuhan spritual kemenakan (33,3%); dan (3) menyangkut kebejatan moral mamak (28,6%). Dan penyebab masih utuhnya hubungan mamak dan kemenakan adalah: mamak masih memperhatikan kebutuhan spritual kemenakannya (66,7%), dan kepribadian mamak masih patut dan pantas ditauladani (33,3%).
Jika hubungan kemenakan dan mamak selalu terputus, oleh responden diberikan alternatif dampak negatifnya sebagai berikut: mamak seakan-akan tidak dibutuhkan lagi (65%); hilangnya rasa hormat kemenakan terhadap mamak (16%); dan hilangnya rasa takut kemenakan terhadap mamak mamak (15%); dan mamak akan dimusuhi kemenakan (5%). Sedangkan dampak positifnya jika hubungan mamak dan kemenakan harmonis atau terjaga adalah: mamak akan selalu dihormati kemenakan (58,4%); kemenakan akan menjaga martabat dan nama baik mamaknya (33,3%); dan kemenakan akan selalu patuh kepada mamaknya (8,3%).

d)   Interpretasi Data
Sebuah karya sastra dapat dipandang sebagai jembatan dunia normatif dengan dunia objektif. Karya sastra harus meng-gambarkan idealisme masyarakatnya, sekaligus mengungkapkan gambaran realitas sosial masyarakatnya. Cerpen ”Si Padang” ditinjau dari kacamata ini, memenuhi kriteria itu. Idealisme masyarakat Minangkabau tentang hubungan mamak dan kemenakan harus berlangsung secara harmonis, ada keseim-bangan tugas dan tanggung jawab, keseimbangan antara hak dan kewajiban antara mamak dan kemenakan. Pencerminan ideal-isme masyarakat Minangkabau ini dapat ditemukan dalam cerpen ”Si Padang” melalui hubungan mamak dan kemenakan, yaitu hubungan tokoh Haji Kiram dengan Mansur serta Ibu Mansur di kampung; dan pada tokoh Mamak Basril dengan Basril serta Mansur di Jakarta. Namun, keharmonisan antara mamak dan kemenakan dalam cerpen ini, tidaklah mendominasi penceritaan. Dominasi penceritaan menyangkut ketidakharmo-nisan hubungan mamak dan kemenakan melalui tokoh Haji Kiram dan Mansur di Jakarta. Sungguhpun begitu, ternyata keti-dakharmonisan hubungan mamak dan kemenakan ini berkaitan dengan realitas objektif. Ketidakharmonisan hubungan mamak dan kemenakan itu didukung oleh 51,6% respponden (48,4% kurang harmonis dan 3,2% tidak harmonis). Hanya sekitar 19,4% realitas objektif masyarakat Minangkabau yang menun-jukkan keharmonisan hubungan antara mamak dan kemenakan.
Permohonan Mansur dan ibunya kepada Haji Kiram untuk membantu Mansur dalam mengatasi problemnya, berhubungan erat dengan dunia idealisme masyarakat minangkabau (kamakan bapisau tajam, mamak badagiang taba). Hal ini pulalah yang menyebabkan orang tua Mansur sangat senang mendengar berita bahwa Mansur tinggal bersama mamaknya Haji Kiram di Jakarta. Prilaku tokoh Haji Kiram yang tidak memenuhi harapan Mansur di Jakarta, merupakan penyimpangan dari dunia idealisme masyarakat Minangkabau. Akan tetapi, hal ini berkaitan erat dengan realitas objektif masyarakat Minangkabau dewasa ini. Oleh sebab itu, cerpen ”Si Padang” dapat disimpulkan sebagai karya sastra yang menggam-barkan realitassosial masyarakat Minangkabau. Cerpen ”Si Padang” tidak lagi sekedar penanda perubahan sosial budaya Minangkabau.
Banyak data-data konkret lainnya dalam cerpen ”Si Padang” untuk memperkuat kesimpulan itu, seperti: (a) Usaha Mansur bertahan di rumah mamaknya Haji Kiram selama 15 hari dan berusaha ”berbaik-baik” dengan keluarga mamaknya, berhubungan erat dengan data realitas objektif sikap dan prilaku kemenakan terhadap mamak di perantauan yang berbuat baik sebanyak 65,5% (baik sekali 6,9% dan baik 58,6%); (b) Tidak adanya perhatian Haji Kiram terhadap Mansur yang lebih mendominasi penceritaan, dibandingkan sedikitnya penceritaan hubungan baik mamak Basril terhadap Basril atau Mansur, berkaitan erat dengan rendahnya sikap dan prilaku mamak terhadap kemenakan yang baik di perantauan, yakni 41,9% (baik sekali 3,2%, dan baik 38,7%); (c) Tindakan Mansur yang meninggalkan rumah mamaknya dengan hanya berpamitan dengan Lidia. Tidak maunya Mansur mengenalkan dirinya kepada mamaknya yang menumpangi taksi Mansur. Keterikatan Mansur kembali ke rumah mamaknya bukan karena mamaknya, tetapi hanya karena Lidia. Semuanya ini berkaitan dengan realitas sosial masyarakat Minangkabau dewasa ini, bahwa hubungan mamak dan kemenakan itu akan terputus bila: mamak tidak pernah lagi memperhatikan kebutuhan material kemenakan; mamak tidak lagi memenuhi kebutuhan spiritual kemenakan; dan disebabkan kebijakan mamak yang cenderung merugikan kemenakan.
Ketiga alasan yang diberikan responden dapat dilihat suasananya pada sikap dan prilaku tokoh Haji Kiram Datuk Nan Kuniang. Masih eratnya hubungan mamak Basril dengan Basril, serta diterimanya Mansur oleh keluarga mamak Basril dengan suka cita, juga berhubungan dengan data-data realitas objektif. Keakraban dan keharmonisan hubungan mamak dan kemenakan akan tetap terjalin mana kala: mamak memperhatikan kebutuhan spritual kemenakannya; dan kepribadian mamak masih dapat diteladani. Pemberian material mamak kepada kemenakan bukanlah jaminan untuk terjadinya keharmonisan hubungan mamak dan kemanakan. Itu pulalah sebabnya mansur tidak mendapat tekanan psikologis di rumah mamak Basril yang lebih miskin daripada Haji Kiram. Di rumah mamak Basril, Mansur mendapat perhatian spritual, dukungan moral, sedangkan di rumah Haji Kiram tidak. Sebenarnya, kebejatan moral mamak dan keluarganyalah yang menyebabkan ia pergi meninggalkan rumah. Juga karena tidak adanya perhatian spritual dari Haji Kiram. Selama lima belas hari Mansur menumpang di rumah Haji Kiram hanya hanya dua kali sempat berjumpa denganya. Bukankah tanpa kebutuhan material, Mansur rela pergi menapaki kota Jakarta untuk mencari kerja sendiri?
Cerpen ”Si Padang” ini berhubungan juga dengan dunia idealisme masyarakat Minangkabau. Mamak dijadikan pemimpin bagi kemenakan-kemenakannya, mamak tempat menggantungkan nasib, mamak harus dituruti kata-katanya. Ukuran normatif ini terlihat di kampung. Tetapi, setelah sampai di Jakarta ternyata mamaknya tidak pantas untuk dijadikan panutan, maka Mansur meninggalkannya. Bahkan Mansur tanpa ucapan sepatah kata pun membawa lari Lidia yang sedang dimarahi Haji Kiram. Perbuatan Mansur ini secara implisit merupakan penentangan terhadap mamaknya. Hal ini berhubungan dengan nilai-nilai normatif masyarakat Minangkabau bahwa ‘raja lalim, raja disanggah’. Sedangkan tindakan Mansur yang patuh terhadap mamak Basril merupakan pencerminan dari ‘raja adil, raja disembah’.

D.  Kesimpulan

Berdasarkan data-data yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kerelevanan antara cerpen ”Si Padang” dengan realitas sosial budaya Miangkabau amat tinggi, baik secara idealisme maupun secara realitas objektif. Kesimpulan ini, mengarahkan rekomendasi penilaian bahwa cerpen ”Si Padang” merupakan cerpen yang berhasil mengungkapkan realitas sosial masyarakat Minangkabau saat ini. Sebagai pencerminan realitas sosial budaya masyarakat Minangkabau, cerpen ini merupakan pembenaran dari pendapat hoggart yang mengatakan bahwa karya sastra pada semua tingkat disinari oleh nilai-nilai yang ditetapkan dan nilai-nilai yang diterapkan. Oleh sebab itu yang dilakukan Harris adalah meyakinkan dan menunjukkan bahwa karyanya ini betul-betul berintegrasi dengan kehidupan individu dan masyarakat dalam struktur masyarakatnya (Hoggart, 1975:170). Dalam hal ini Harris Effendi Thahar sebagai pengarang yang lahir, dibesarkan dan hidupan dalam masyarakat Minangkabau, telah mengemukakan realitas objektif yang menjadi bagian dari dilema masyarakat Minangkabau.
Sebagai pencatat fenomena masyarakat yang telah, sedang atau akan terjadi cerpen “Si Padang” merupakan pembenaran dari konsepsi Hoggart tentang keharusan sastra untuk mengemukakan nilai-nilai yang diinginkan. Dalam hal ini Harris mengungkapkan dalam bentuk realitas, yaitu ia mengemukakan kejadian yang sedang menimpa kultur budaya Minangkabau.
Baik atau buruknya sebuah karya sastra ditentukan langsung dalam hubungannya terhadap kondisi sosial masyarakat, baik dilihat secara individu maupun secra bermasyarakat (Hoggart, 1975: 159). Kalau hanya ini yang dijadikan indikator tolok ukur untuk penilaian karya sastra, maka  hasil kajian ini membuktikan bahwa Harris Effendi Thahar berhasil mengetengahkan sebuah karya sastra yang bermutu. Alasannya jelas karena cerpen ini berkaitan erat dengan kondisi realitas masyarakat Minangkabau.

Daftar Bacaan

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Faruk H.T. 1987. Strukturalisme Genetik dan Epistemologi Sastra. Yogyakarta: Lukman Offset.
Goldmann, Lucien. 1970. "The Sociology of Literature: Sta­tus and Problems of Method", dalam Milton C. Al-brecht (dkk., ed.). The Sociology of Art and Literature: a Reader. New York dan Wasington: Praeger Publications, h. 582-609.
Hoggart, Richard. 1975. “Contemporary Cultural Studies: An Approach to the Study of Literature and Socoety. In Malcolm Bradbury and David Palmer (ed.) Contemporary Criticsm. London: Edward Arnold.
Hudson, W.H. 1955. An Outline English Literature. London: G.Boll and Sons Ltd.
Junus, Umar. 1986. Sosiologi Sastra: Persoalan Teori dan Metode. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia: Kuala Lumpur.
Kleden, Ignas. 1981. Kesusasteraan Indonesia tidak Harus Menjadi Cermin Keadaan Masyarakat, dalam Tifa Budaya. Jakarta: Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional.
Mohammad, Gonawan. 1972. Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang. Jakarta: Pustaka Jaya.
Scholes, Robert. 1976. Structuralism in Literature: An Intruduction. New Haven and London: Yale University Press.
Thahar. Harris Effendi. 2003. Si Padang. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar