Senin, 16 Januari 2012

Aplikasi Pendekatan Struktural dalam Memahami Karya Sastra



1.   Teori  dan Pendekatan Struktural
Pendekatan adalah serangkaian asumsi yang bersifat aksiomatis tentang sifat dan hakikat suatu objek (Djunaidi, 1987:28). Sedangkan Henry Guntur Tarigan (1991: 3) mengatakan bahwa pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat dan pembelajaran sastra. Bertolak dari kedua pengertian itu dalam sejarah perkembangan pemaham-an karya sastra  terdapat sejumlah pendekatan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mengapresiasi sastra. Keanekaragaman pendekatan yang digunakan tersebut ditentukan oleh: (1) tujuan dan apa yang akan diapresiasi lewat karya sastra tersebut, (2) keleng-kapan apresiasi itu terproses lewat kegiatan yang bagaimana, dan (3) lkitasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi itu. Pendekatan apresiasi yang dimaksudkan di sini bertolak dari lkitasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. Berdasarkan lkitasan teori yang digunakan dalam apresiasi, ada dua asumsi dasar yang berbeda mengenai karya sastra sebagai objek pemahaman atau apresiasi. Kedua pan-dangan yang berbeda itu menurut Abrams (1878:6-29) adalah: (1) pemahaman yang didasarkan pada asumsi bahwa karya sastra merupakan objek yang otonom, yakni objek yang dapat memenuhi dan mengatur diri sendiri, dan (2) pemahaman yang didasarkan pada asumsi bahwa karya sastra itu merupakan objek yang terikat pada penga-rang, realitas, dan pembeca.
Pkitangan pertama, menganggap bahwa untuk memahami makna sebuah karya sastra tidak diperlukan bantuan ilmu-ilmu lain karena ia dapat mengatur diri sendiri. Pkitangan ini telah melahirkan pendekatan objektif dalam studi sastra yang dikenal dengan sebutan pendekatan struktural. Sedangkan pkitangan kedua yang menganggap bahwa karya sastra merupakan objek yang terikat pada pengarang, realitas, dan pembaca telah melahirkan pendekatan ekspresif, mimesis, dan pragmatis.
Pendekatan sturuktural dalam memahami karya sastra bertumpu pada pkitangan pertama di atas. Orientasi yang kuat terhadap karya sastra sebagai objek yang otonom merupakan ciri utama pendekatan ini. Para pakar sastra yang menganut paham ini me-mkitang sastra sebagai satu kelas dengan bahasa yang khusus dan mendasarkan diri pada asumsi bahwa terdapat oposisi yang fondamental antara bahasa sastra dan bahasa sehari-hari (Abrams dalam Faruk HT., 1988:58). Kekahasan bahasa sastra itu tampak pada kecenderungan untuk memperhatikan pembaca pada unsur formal dan hubungan antara tkita-tkita keba-hasaan itu sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara yang disebut Mukarovsky dalam Faruk (1988{59) sebagai foregrounding, yaitu cara membuat sesuatu menjadi lebih menonjol dan dominan dibandingkan dengan yang lain dalam persepsi pembaca. Dalam wujud konkret foregrounding itu pada Fokkema and Kunne-Ibsch dalam Faruk (1988:59) terlihat pada teknik de-familiarisasi dan teknik membuat segala sesuatu yang di dalam bahasa sehari-hari telah menjadi otomatis.
Teori kaum formalis memperlihatkan kesepi-hakan dalam dua hal penting, yaitu: (1) dengan mem-batasi pengamatan pada unsur-unsur formal belaka, kelompok itu telah kehilangan unsur petkita. Dalam tahap  perkembangan waktu itu yang mereka garap baru penkita, (2) dengan memusatkan perhatian pada satu peralatan saja, kaum formalis melupakan prinsip keutuhan karya sastra, prinsip hubungan antarunsur yang membangun karya sastra.
Di kalangan formalis usaha mempelajari aspek petkita dan hubungan antarunsur pembangun karya sastra, baru muncul setelah adanya tulisan Tynjanov (1924) dan Erik (1927). Sampai di sini kaum formalis telah menyebut atau memunculkan istilah struktural (Fokkema dan Kunne-Ibsch dalam Faruk, 1988:60).
Mengapresiasi karya sastra berdasarkan pen-dekatan struktural pada dasarnya berakar dari struktur dalam studi bahasa yang dikembangkan Seussure. Konsep Seussure yang berpengaruh adalah konsep tkita dan diakronis. Berdasarkan pengaruh konsep itu, struktural dalam studi sastra atau dalam mengapresiasi karya sastra memkitang karya sastra sebagai objek otonom, yaitu objek yang dapat mengatur diri sendiri tanpa tergantung dengan faktor lain seperti pengarang, pembaca, dan faktor realitas sosial.

a)   Hakikat  Teori Struktural
Meskipun penganut paham struktural ini ber-macam-macam, namun di antara mereka terdapat kesatupahaman dalam memahami karya sastra, yaitu pada struktur. Apakah itu struktural? Pengertian tentang struktural telah banyak dikemukakan pakar. Shipley misalnya, merumuskan bahwa:
“Structure: the sum total of elements that make up a work. A structure may have such diverging elements that is does satisfy any logical or critical estimate: in which case we call it ‘formless’.”
                              (Shipley, 1960:396)

Sedangkan Re Wellek dan Austin Warren  memberi-kan batasan struktural sebagai:
            “Structure is concept including both content and form so far are organized for aesthetic purpose. The work of art is, then, considered a whole system of signs, or structure of signs; serving a specific aesthetic purpose.”
                                   (Wellek & Warren, 1962:141)
Kemudian Michael Lane  (1870:24) mendefi-nisikan struktur sebagai berikut “A structure is a set of any element between which, or between certain sub-sets of which, relations are difined.” Sejalan dengan pengertian ini, Robert Scholes (1977:4) membatasi bahwa struktur merupakan suatu cara untuk mencari kenyataan, bukan benda-benda secara sendiri-sendiri, melainkan dalam hubungan antarbenda-benda itu. Dengan kata lain bahwa struktur merupakan suatu cara memkitang kenyataan bukan dalam benda-benda secara individual, tetapi dalam relasinya satu dengan yang lain.
            Secara lebih tegas Teeuw (1981:5) mengatakan bahwa asumsi dasar struktur adalah sebuah karya sastra merupakan keseluruhan, kesatuan makna yang bulat, mempunyai kohesi intrinsik, dalam keseluruhan itu setiap bagian dan unsur memainkan peranan yang hakiki, sebaliknya unsur dan bagian mendapat makna seluruhnya dari makna keseluruhan teks (lingkaran hermeneutik).
Dari batasan-batasan yang diberikan di atas dapat dirumuskan bahwa dasar gagasan pendekatan struktural adalah konsep tentang struktur. Seperti dijelaskan Jean Piaget dalam Hawkes (1977:141) bahwa struktur itu mempunyai ciri-ciri sebagai beri-kut: (a) gagasan menyeluruh, koherensi intrinsik, (b) gagasan transformasi yang memungkinkan pemben-tukan pengertian baru, dan (c) gagasan regulasi diri yang berarti bahwa struktur itu bersifat otonom. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa struktur merupakan suatu organisasi menyeluruh (organized whole) yang bagian-bagiannya saling berhubungan secara fungsional, artinya bagian itu saling mempe-ngaruhi, saling menentukan makna, dan hanya ber-makna di dalam  kesatuan. Setiap struktur diarahkan kepada sutau tujuan yang sudah ditentukan hubungan antara struktur yang satu dengan struktur yang lain bersifat ‘singanze’ artinya bahwa setiap struktur itu menjadi bagian struktur yang lebih besar dan lebih tinggi; dalam hubungan ini ada kecenderungan penanjakan (escalating).
Menurut Terrence Hawkwes (1977) prinsi strukturalisme yang utama adalah menelaah sesuatu berdasarkan struktur. Karakteristik struktur menurut Piaget sebagaimana yang dikutip Hawkess ada tiga, yakni (a) gagasan menyeluruh yang menjalin koherensi intrinsik; (b) gagasan transformasi yang memungkinkan pembentukan penafsiran baru, dan (c) gagasan regulasi diri bahwa struktur bersifat otonom.
Dalam hubungannya dengan karya sastra, menurut Umar Junus (1985:17) ada tiga karakteristik struktur, yaitu: (a) dalam struktur ada saling hubungan unsur-unsur sebuah karya sastra merupakan suatu sistem interelasi antara unsur-unsur pembentuknya, (b) dalam struktur ada suatu yang abstrak yang menyatukan hal-hal yang berbeda untuk memperoleh hukum universal, dan (c) struktur tidak mengenal sejarah.
Kemudian Roland Barthes dalam Sapardi Djoko Damono (1977:40) menyebutkan empat ciri khas struktur, yaitu: (a) perhatian tertuju kepada kese-luruhan (totalitas), (b) struktur tidak hanya menelaah struktur permukaan, tetapi juga struktur batin, (c) struktur bersifat anti sejarah (menyangkut sesuatu yang sinkronis dan bukan diakronis) dan (d) struktur bersifat anti kausal.

b)   Prinsip Dasar Pendekatan Struktural
Prinsip dasar dari pendekatan struktural, menurut  Teeuw (1984:135-136) adalah (a) pendekat-an struktural bertujuan membongkar dan memaparkan secermat mungkin keterkaitan unsur-unsur karya sastra yang membentuk makna menyeluruh (univer-sal), (b) pendekatan struktural tidak menjumlahkan unsur-unsur, (c) pendekatan struktural berusaha me-nyematikkan termasuk menyemantikkan gejala bunyi dalam karya puisi, dan (d) pendekatan struktural menganggap bahwa keseluruhan makna karya sastra berada dalam keterpaduan struktur total.
Rene Wellek dan Warren menyatakan bahwa pendekatan struktural dalam menganalisis karya sastra harus mementingkan segi intrinsik dan anti ekstrinsik (Wellek dan Warren, 1974:24). Artinya di dalam pendekatan struktural, karya sastra dipkitang otonom yang maknanya tidak ditentukan oleh hal yang berada di luar karya sastra. Aristoteles dalam Teeuw (1984:66) menyebutkan empat sifat struktur, yakni: (a) order (urutan teratur), (b) amlplitude (keluasan yang memadai),  (c) complexity (masalah yang kompleks), dan (d) unity (kesatuan yang bulat). Cara meng-aktualisasikan prinsip tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (a) dengan cara berpola, dan (b) dengan cara tidak berpola. Pendekatan struktural ber-pola si Apresiator (pembaca) terlebih dahulu menen-tukan unsur apa yang akan diapresiasi atau dipahami. Sedangkan dengan cara tidak berpola, apresiator (pembaca) tidak menentukan terlebih dahulu unsur apa yang akan diapresiasinya, tetapi dimulai dari unsur yang diinginkan.
Kelemahan metode strukturalisme adalah keyakinannya yang terlalu berlebihan terhadap otonomi karya sastra. Akibatnya, terabaikanlah dua hal pokok yang penting dipertimbangkan dalam rangka mencari dan menemukan makna karya sastra, yakni kerangka sejarah dan kerangka sosial budaya yang mengitari karya sastra tersebut. Secara lebih rinci kelemahan itu adalah: (a) strukturalisme murni belum mengungkapkan teori sastra yang tepat dan lengkap, (b) menelaah karya sastra secara terpisah, padahal karya sastra harus diteliti dan dipahami dalam rangka sistem sastra dengan latar belakang sejarah, (c) terlalu meyakini bahwa karya sastra mempunyai struktur yang objektif, dan (d) telaah strukturalisme yang hanya menekankan otonomi karya sastra akan menghilangkan fungsi referensialnya, sehingga karya sastra dimenaragadingkan dan kehilangan relevansi sosialnya.
Sedangkan keuntungan metode strukturalis-me yang memegang teguh kelengkapan, keterjalinan struktur dan otonomi karya sastra, serta metode telaah sastra yang disukai ini adalah sebagai berikut: (a) penelaah atau apresiator tidak perlu memiliki latar belakang budaya, sejarah, psikologi, sosiologi, filsafat dan sebagainya yang cukup luas untuk membaca karya sastra, (b) pembaca dapat menggali struktur karya sastra sedalam-dalamnya sampai pada keterjalinannya yang paling rumit sekalipun, dan (c) pembeca dapat menelaah karya sastra secara objektif karena hanya menelaah struktur karya sastra.

c)    Karakteristik Telaah Karya sastra
Berdasarkan Pendekatan Struktural
Berdasarkan hakikat dan prinsip dasar pende-katan struktural sebagaimana yang diuraikan terda-hulu, dapat dirumuskan bahwa karakteristik pende-katan struktural dalam menelaah atau mengapresiasi karya sastra adalah sebagai berikut.
(1)   Asumsi pendekatan struktural adalah bahwa karya sastra baik prosa fiksi maupun puisi atau karya drama dipkitang bersifat otonom
(2)   Bentuk telaah sederhana karena yang ditelaah hanya struktur intrinsik semata;
(3)   Unsur yang ditelaah hanya terbatas pada unsur intrinsik serta keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya;
(4)   Proses telaah dari struktur bagian ke struktur keseluruhan;
(5)   Teknik telaah analitik, yaitu memberi makna tiap bagian struktur intrinsik kemudian baru kepada makna totalitas;
(6)   Dasar pertimbangan dalam penentuan makna semata-mata dari unsur intrinsik;
(7)   Pangkal tolak telaah linear, dari bagian ke konsep totalitas secara otonom; dan
(8)   Esensi sastra terlepas dari konteks kesemes-taan.

d. Pola Pembelajaran Apresiasi Sastra
    Berdasarkan Pendekatan Struktural
Pola pembelajaran apresiasi sastra, baik apre-siasi puisi maupun prosa fiksi berdasarkan pendekatan struktural menenkankan pada pola penggunaan ana-lisis. Pembelajaran dimulai dari proses pengenalan unsur karya sastra yang akan dianalisis, kemudian baru melakukan kegiatan analisis. Pada tahap analisis ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah meng-identifikasi unsur karya sastra yang dianalisis, meng-klasifikasikannya, dan setelah itu baru menyimpul-kannya. Untuk lebioh jelasnya tahap-tahap pelak-sanaan pembelajaran apresiasi sastra berda-sarkan pendekatan struktural berpola tersebut dapat digam-barkan sebagai berikut.

Pengenalan informasi tentang struktur intrinsik karya sastra
Pemahaman/ menganalisis informasi struktur untuk pembentukan konsep
Rangkuman dan penyimpulan hasil analisis untuk memperoleh gambaran makna

            Dari gambar di atas, terlihat pola pembelajar-an yang dilaklukan pendidik yang menganut paham struktural. Pada tahap pertama, pendidik memper-kenalkan terlebih dahulu kepada peserta didiknya tentang unsur-unsur karya sastra yang akan diapresia-sinya. Hal ini dapat dilakukan dengan metode cera-mah, diskusi kelompok, tanya jawab dan lain-lain. Setelah berlangsung proses diskusi dan tanya jawab barulah pendidik masuk pada tahap kedua. Pada tahap kedua ini pendidik memberikan sebuah karya sastra yang akan diapresiasi peserta didik, sesuai dengan unsur intrinsik yang diperkenalkan pada tahap satu. Terakhir (pada tahap ketiga) pendidik bersama-sama peserta didik menyimpulkan hasil analisisnya untuk memperoleh gambaran  umum makna tentang karya sastra yang dianalisis tersebut.
            Dengan berpedoman pada pola pembelajaran yang demikian, di satu pihak pembelajaran yang se-perti itu menguntungkan karena peserta didik dapat berpikir secara kritis, analitis, dan berpola, tetapi di pihak lain bentuk pembelajaran yang demikian tidak mengakrabkan peserta didik dengan karya sastra. Hal ini disebabkan karena: (a) pembelajaran terlalu ana-lisis, (b) pembelajaran yang demikian mengabaikan  aspek individu peserta didik sebagai manusia pemberi makna karya sastra, (c) pembelajaran dimulai dengan pengetahuan hafalan, dan (d) dalam melakukan kegiat-an analisis tidak melibatkan variabel-variabel ekstrin-sik karya sastra.

1 komentar:

  1. じっさいに、あなた の エッセイ は とても よいです。
    でも、あなた の 言語 は とても むずかしいです。

    maaf sebelumnya bapak...
    bahasa yang digunakan bapak mungkin ada pada level tinggi yang saya tidak pahami... (apalagi sebagai mahasiswa baru)

    seandainya bahasa bapak lebih dipermudah, tulisan bapak ini akan sangat membantu kami (mahasiswa baru) untuk lebih memahami filsafat dan kawan-kawannya...


    terimakasih....

    BalasHapus